Gie, Abror Hidup Membuat Hidup Baik Manusia

180

Oleh: Prof. Dr. Gempur Santoso, M.Kes
Direktur LPIK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Managing Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia.

 

Pesan dari saya, Gempur Santoso

SUDAH  lama saya kenal dan berteman dengan Sugianto (biasa panggil pak Gik atau pak Gie). Begitu pula Dhiman Abror (biasa saya panggil cak Abror). Kita bersama-sama pengurus dan penulis koran  “Swaranews”.

Sejak sebelum tahun 2010 sudah bersama mereka. Saya lupa tepatnya. Sangat ingat tahun 2014. Kerja bersama membantu seorang tokoh. Seorang menteri BUMN. Di jl. Bali Surabaya. Tugasnya mendidik dan melatih masyarakat Jawa Timur. Melatih: jurnalistik, membatik dan sebagainya. Mendidik: nation character building, komunikasi, manajemen konflik dan lainnya.

Pak Gie orangnya sederhana. Saat itu, kalau siang hari suka minum “dawet ayu” di rombong tepi jalan Sulawesi. Depan seberang jalan pompa SPBU. Surabaya panas, dawet ayu PK5, penyegar dahaga. Murah menyelesaikan masalah, haus.

Kalau cak Abror, sekitar tahun 2015. Pernah ngobrol serius dengan saya termasuk pak Gik. Bicara tentang keadaan per-politik-an di negeri tercinta Indonesia ini. Inti kesimpulannya: Indonesia kekurangan bahkan hampir tak ada politikus, adanya: pekerja politik.

Tentu beda politikus dengan pekerja politik. Politikus, memainkan perjuangannya untuk bangsa dan negara menjadi terjaga kedaulatan dan memajukannya. Pekerja politik, hanyalah pekerja pragmatis memperkaya diri sendiri atau kelompoknya lewat jalur politik. Intinya duit dan duit. Menjadi rahasia umum disebut UUD alias ujung Ujungnya Duit – kekayaan/harta.

Saya memang agak kaget. Kedua temanku ini ikut nyaleg (calon legislatif). Calon anggota DPR RI (cak Abror) dan p Gie, calon anggota DPRD Kota Surabaya. Setahu saya mereka berdua tidak kaya harta. Ya, maaf saya salah sangka. Pernah saya tanya  “Kok nyaleg, apa punya biaya?” Jawabnya,  ditawari prof.  Oh ternyata gratisan. Partai tidak minta mahar.  Berarti, saya tidak salah sangka.

Saya duga semi semi gratis. Walau sedikit, tetap mengeluarkan dana. Semoga saja warung isteri pak Gie  di teras super market Papaya tetap buka. Tidak bangkrut. Modalnya tak katut buat nyaleg.

Selama saya berteman dengan pak Gie dan cak Abror. Mereka orangnya sederhana, suka menolong. Mereka sangat peduli kepada orang lemah. Pada tulisan-tulisan yang dimuat Swaranews. Dapat dibaca, sering membela orang lemah, terpinggirkan dan tak diuntungkan oleh keadaan. Mereka berdua sangat berpihak pada manusia yang lemah agar bangkit. Agar terbebaskan dari belenggu setempat. Maupun belenggu regulasi.

Mereka berdua dapat disebut “ndilalah kersaning Alloh” dapat kesempatan nyaleg. Sebelumnya juga tak pernah jadi anggota ataupun pengurus parpol.

Tetapi, saya nyakin mereka berdua memiliki integritas pribadi kuat, intregritas kebangsaan Indonesia juga kuat. Ya, silakan nyaleg.

Mungkin Tuhan memberi amanah yang lebih luas. Membela orang lemah di masyarakat luas. Selama ini hanya sebatas tulisan di koran.

Paling tidak saya punya pesan kepada teman saya berdua itu. Pak Gie dan cak Abror, jika betul jadi wakil rakyat yakni:

  1. Tetaplah jaga integritas pribadi. Tetap menjadi manusia berkarakter.
  2. Tetaplah jiwa peduli dan berpihak orang yang lemah, menjadi terbebaskan.
  3. Kembangkan dan ajari masyarakat untuk berwiraswasta. Menjadi pengusaha besar. Bedagang, beternak ataupun bertani yang besar. Menjadi pelaku industri berbasis budaya Indonesia yang besar. Sebab Indonesia kekurangan pengusaha besar. Ekonomi negeri ini kurang berdaulat. Masih menjadi negara ketergantungan tinggi dibidang ekonomi.

Itu saja, Allah SWT selalu bersama Anda. Dapat ridhlonya. Tetap bekerja untuk kemaslahatan manusia. Membuat baik pada manusia adalah bekerja (mengabdi) untuk Tuhan. Karena manusia ciptaan Tuhan. (GeSa)