Panditokrasi

52

Alkisah, dalam sebuah forum internasional bertemulah tiga orang presiden; Soeharto dari Indonesia, Ronald Reagan dari Amerika Serikat, dan Leonid Brezhnev dari Uni Soviet. Ketiganya saling membanggakan demokrasi di negaranya.

Reagan menyombongkan kehebatan demokrasi Amerika. “Di negara kami, sehari setelah pemilu hasilnya sudah diketahui,” katanya.
Brezhnev tak mau kalah. “Di negara saya enam jam setelah pemilu hasilnya sudah ketahuan.”
Giliran Soeharto, sambil senyam-senyum berkata, “Di negara saya hasil pemilu sudah diketahui daripada lima tahun sebelumnya.”
* * *
Soal ramal-meramal hasil pemilu sudah menjadi fenomena lama. Kisah di atas hanya sekadar joke politik, tetapi fenomena ramal-meramal politik telah menjadi bagian sangat penting dalam lanskap politik kontemporer.
Ramal-meramal bahkan sudah menjadi bisnis besar dalam politik, dan para peramal politik memainkan peran sangat penting dalam setiap kontestasi politik.
Herbert Gans, ahli komunikasi politik dari Inggris mengatakan bahwa lanskap politik Inggris sekarang sudah sangat terkontaminasi oleh para peramal politik yang disebut sebagai “pundit”.

Secara harfiah, pundit berarti orang pintar-cendekia diambil dari bahasa Sangsekerta yang kemudian dalam Bahasa Indonesia menjadi “pandita”, yang lebih diasosiakan kepada pemuka agama.
Dalam terminologi Bahasa Inggris pundit adalah pakar yang ahli mengenai suatu hal mulai dari politik sampai olahraga.

Mereka umumnya berbicara di media cetak dan tele- visi. Di Amerika dan Inggris para pundit sudah menjadi kelompok yang berpengaruh yang bisa memengaruhi opini publik dan mengubah arah kebijakan.

Herbert Gans menyebut bahwa peran para pundit itu begitu besar sehingga bisa memengaruhi kebijakan politik. Mereka sudah menjadi elite politik sendiri dan setiap komentarnya disimak dengan serius oleh masyarakat.

Di antara mereka ada yang terang-terangan memihak kepada kekuatan politik tertentu dan ada juga yang melakukannya secara halus dan diam-diam.
Banyak juga di antara para pundit itu yang mempunyai agenda tersendiri dan berusaha memengaruhi publik untuk mendukung agenda itu. Beberapa di antara mereka masih ada yang mempertahankan idealisme, tapi banyak juga yang mengeruk keuntungan pribadi. Gans mengecam peran para pundit ini karena mereka dianggap sering mengacaukan agenda penting untuk kepentingan mereka sendiri. Dengan kesal Gans menyebut Inggris sebagai “negara para pundit” atau “punditocracy”.
Para pundit itu bisa muncul dari kalangan wartawan, komenatator dan analis politik serta media, dan para pollster, yaitu para pelaku dan pemilik lembaga polling. Mereka memainkan agenda setting untuk memengaruhi pemerintah dan bertindak sebagai spin doctor yang memengaruhi media dan opini publik dan mengarahkannya kepada arah politik tertentu. Perpaduan atau persekongkolan para ahli dari kalangan akademisi dengan pemilik media dan para pemilik lembaga polling dan riset ini tentu menjadi kekuatan oligarkis yang dahsyat yang bisa memengaruhi opini publik dan memengaruhi arah kebikakan pemerintah. Tak heran jika mereka kemudian dirangkul oleh kekuasaan.

Di Indonesia fenomena yang sama juga terjadi. Para pundit, pollster, dan spin doctor banyak berkeliaran dengan berbagai kepentingan yang campur aduk. Tiap hari para pundit itu bicara di televisi dan menulis di media dengan berbagai macam argumen yang meyakinkan dan tak jarang menggelikan.
Di antara mereka terdapat para pemilik lembaga polling dan riset yang juga sudah menjadi faksi tersendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pemilik lembaga polling ini sudah menjadi elite politik baru dan menjadi “nouveau rich”, orang kaya baru, karena tarif mereka yang tinggi.
Banyak pula di antara mereka yang sangat pragmatis dan mengabaikan idealisme.

Menjelang perhelatan politik besar 2019 para pundit dan pollster di Indonesia sangat sibuk beraksi. Ada di antara mereka yang tanpa malu-malu merilis hasil riset yang mengunggulkan kelompok tertentu dan memojokkan kelompok lainnya.
Mereka dengan penuh percaya diri menyajikan hasil temuannya, meskipun hanya beberapa bulan sebelumnya hasil riset mereka melenceng jauh. Toh, mereka tidak malu dan tetap percaya diri.

Inilah fenomena “Panditokrasi” di Indonesia, ketika sekelompok elite pengamat dan komentator politik menikmati kemewahan karena pernujuman mereka dipercaya banyak orang dan ramalan-ramalan mereka berharga sangat mahal.