Literasi Lingkungan, Pendidikan untuk Peradaban

1228

Oleh:Muhamad Hari Purnomo Hadi, S.Pd.

Guru PPKn di SMK Negeri 1 Sidoarjo
Alumnus Unesa Surabaya
Email: gurumhariph@gmail.com
No.HP/WA 085655224250

 

Pada Akhir – akhir  ini isu lingkungan hidup menjadi permasalahan yang serius karena menyangkut keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Kerusakan lingkungan dan pencemaran lingkungan menjadi masalah yang hangat diperbincangkan dalam berbagai forum diskusi atau pertemuan ilmiah semacam seminar, lokakarya, dll. untuk dianalisis penyebab dan solusi permasalahannya.

Pada dasarnya permasalahan lingkungan yang terjadi dalam sebuah negara merupakan cerminan dari ketersinggungan perilaku tiga pihak. Tiga pihak tersebut  adalah pihak pemerintah sebagai pelaku pembuatan kebijakan, pihak swasta sebagai pelaku eksploitasi sumber daya alam dan pihak masyarakat sebagai pelaku pelestari atau perusak lingkungan. Mereka yang belum sadar atau sudah sadar untuk membuat kebijakan yang melindungi lingkungan. Mereka yang belum peduli atau sudah peduli untuk memanfaatkan alam tanpa merusaknya. Dan mereka yang belum cinta atau sudah cinta terhadap kelestarian lingkungan.

Peran Pendidikan dalam ketersinggungan tiga pihak tersebut adalah akan berusaha secara langsung menyentuh satu pihak, yakni masyarakat, dan secara tidak langsung kepada semua pihak, termasuk pemerintah dan swasta. Harus disadari bahwa peserta didik adalah representasi dari masyarakat. Mereka adalah individu yang kemudian menjadi bagian penting dari masyarakat. Maka pendidikan di sekolah akan mempersiapkan mereka secara langsung untuk menjadi bagian dari masyarakat pelestari lingkungan dan secara tidak langsung mereka yang memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pemerintah yang akan membuat kebijakan penyelamat lingkungan dan pihak swasta yang bisa bersahabat dan memanfaatkan lingkungan secara beradab. Dalam hal ini, peserta didik harus dididik tentang literasi lingkungan

Literasi lingkungan  adalah kemampuan setiap individu untuk berperilaku baik dalam kesehariannya dengan menggunakan pemahamannya terhadap kondisi lingkungan ( Mirza efendi, 2015). Kemampuan peserta didik ini harus dikembangkan oleh sekolah sebagai institusi pendidikan, dan oleh guru kepada peserta didik dalam proses belajar mengajar. Sekolah harus membuat gerakan literasi lingkungan. Desain sekolah secara umum dan Perpustakaan secara khusus harus diarahkan untuk mengembangkan gerakan tersebut. Bagi sekolah, pengembangan ini bisa dilakukan dalam berbagai kebijakan dan kegiatan baik yang bersifat ekstra kurikuler maupun ko-kurikuler. Kurikulum literasi lingkungan juga harus dikembangkan dalam pembelajaran. Literasi lingkungan menjadi semacam hidden curicullum yang harus terintegrasi dalam perencanaan, pembelajaran dan evaluasi.

Sebagai contoh dalam upaya memecahkan permasalahan sampah, sekolah bisa melakukan beberapa langkah. Pertama, sekolah bisa menyiapkan tempat sampah terpisah sesuai jenisnya. Kedua sekolah melakukan pembiasaan kepada peserta didik untuk peduli terhadap pemanfaatan sampah melalui daur ulang,dll. Ketiga sekolah bisa membuat program – program kegiatan semacam kerja bakti, lomba kebersihan kelas,mading,himbauan-himbauan atau yang lain berkaitan dengan penanganan masalah sampah.

Guru dalam pembelajaran di kelas harus selalu menekankan pentingnya kebersihan. Peserta didik bisa difahamkan tentang kondisi permasalahan sampah yang terjadi. Mulai dari perilaku negatif sebagian masyarakat yang masih terbiasa membuang sampah secara sembarang sampai perilaku positif sebagian masyarakat yang bukan hanya sekedar disipilin untuk tidak membuang sampah secara sembarang, tetapi lebih dari itu telah mampu memilah sampah hingga mendaur ulang sehingga lebih bernilai secara ekonomis. Haus diakui perilaku membuang sampah secara sembarangan merupakan perbuatan yang menjadi kebiasaan buruk sebagian masyarakat. Kebiasaan buruk masyarakat ini jg terkadang dilakukan oleh sebagian peserta didik. Maka, sebagai pendidik, guru harus tanggap terhadap permasalahan ini. Mereka tidak boleh acuh, apalagi menganggap hal ini sepele. Pertama yang harus diupayakan kepada peserta didik adalah membiasakan membuang sampah pada tempatnya sesuai jenisnya. Ketegasan berupa pemberian reward dan punishment bisa dilakukan oleh guru. Pembelajaran hanya akan dimulai saat ruangan kelas sudah bersih dari sampah. Dan pembelajaran juga hanya akan bisa diakhiri saat ruangan kelas juga bersih dari sampah. Pemanfaatan sampah untuk didaur ulang adalah tindak lanjut dari upaya yang pertama.

Akhirnya, Jika pendidikan literasi lingkungan ini berhasil ditanam, maka peradaban manusia yang peduli pada lingkungan akan bisa disemai. Semua harus dimulai dari pembiasaan yang jika dilakukan secara berkesinambungan akan membentuk sebuah karakter. Karakter manusia yang sadar bahwa keberlangsungan lingkungan yang baik adalah demi keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Karakter yang dimaksud adalah karakter manusia yang selalu hidup harmonis dan selaras bukan hanya dengan sesama manusia, tetapi juga harmonis dan selaras dengan lingkungan hidup.