Budaya Baca untuk Peradaban Unggul

73

Penulis adalah guru di SMKN 1 Sidoarjo
Nama : Abdul Majid Hariadi, S. Pd.
Asal Sekolah : SMK Negeri 1 Sidoarjo
Alamat Sekolah : Jl. Monginsidi Telp. 8965636 Sidoarjo 61218
No. HP : 081230004059, 082332644445
Email : majidsmkn1sidoarjo@gmail.com

 

UMAT manusia di peradaban apa pun memiliki keyakinan bahwa anak-anak harus melakukan proses pendidikan, mencari ilmu pengetahuan, belajar membaca dan menulis, memiliki karakter, berinteraksi, memiliki kecakapan, serta berkebudayaan. Dengan proses itu anak akan memiliki berbagai pengalaman belajar. Kalau dalam prinsip UNESCO anak akan belajar berfikir, berbuat, menghayati, dan kemauan untuk hidup bersama. Proses itu harus dilalui agar anak-anak mampu menumbuhkan akar peradaban, dan itu sangat ditentukan oleh keterampilan literasi. Literasi adalah kemampuan membaca dalam arti yang luas, kemampuan mendengar, merespon, menuliskan apa yang telah dibaca, sampai pada penerapannya

Kalau parameter yang digunakan adalah tingkat kualitas dalam hal budaya baca maka rendahnya minat anak-anak berliterasi merupakan simbol kegagalan, ketertinggalan, bahkan keterbelakangan peradaban bangsa. Dalam praksis pendidikan, membaca adalah pondasi dasarnya. Sementara pendidikan adalah salah satu jalan untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Ini artinya kualitas kecakapan literasi murid sangat ditentukan dalam proses pendidikan. Demikian halnya, jika literasi sudah menjadi budaya di sekolah maka akan menjadi penggerak peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia.

Namun sayangnya, dalam berbagai satir dikisahkan bahwa minat baca anak-anak Indonesia berada di titik mengkhawatirkan. Anak-anak sekarang lebih suka tayangan visual daripada membaca buku. Anak lebih akrab dengan gadget daripada bersentuhan dengan buku. Membaca bagi anak dianggap sebagai proses yang menjemukan dan tidak menarik. Iklim masyarakat dengan dominasi budaya visual dan lisan menambah keengganan mereka menyatu dengan buku. Apalagi di abad 21 mutakhir ini, semua bidang kehidupan menuju pada era digital, visual, dan serba praktis menjadi tantangan tersendiri dalam membangun budaya baca.

Publikasi hasil penelitian yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Tahun 2017 menunjukkan bahwa frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu. Durasi waktu membaca per hari rata-rata hanya 30-59 menit. Sedangkan jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. (Kompas,29/3/2018)

Tingkat Budaya Baca Murid Sekolah Dasar

Pada periode 2-28 September 2017 penulis melakukan penelitian tentang budaya baca pada murid Sekolah Dasar. Data yang didapatkan memberikan gambaran yang jelas tentang penerapan budaya sejak dini. Penelitan ini melibatkan responden sebanyak 706 murid SD Kelas VI di Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data sebagai berikut: pertama, sebanyak 49 persen responden menyatakan tahu tentang gerakan literasi sekolah, 51 persen tidak tahu. Kedua, dalam waktu sebulan terakhir 45 persen responden membeli buku selain buku pelajaran dan 55 persen tidak membeli buku. Ketiga, 33 persen responden menyukai main game di handpone atau warnet, 47 persen suka membaca buku, dan 20 persen suka nonton televisi.

Keempat, dari jumlah sekolah asal responden yang disurvei, 54 persen sekolah menerapkan 15 menit pertama membaca buku selain buku pelajaran sebelum pelajaran dimulai, sedangkan 46 persen sekolah tidak menerapkan. Kelima, seluruh sekolah memiliki perpustakaan sekolah. Keenam, dari jumlah 28 kelas asal responden yang disurvei, 64 persen kelas memiliki perpustakaan kelas, sedangkan 36 persen tidak memiliki perpustakaan kelas.

Dari hasil penelitian tersebut secara empiris dapat disimpulkan bahwa gerakan literasi sekolah belum sepenuhnya dijalankan oleh seluruh sekolah. Banyak sekolah yang belum menyadari dan mensosialisasikan pentingnya membangun gerakan literasi sekolah sehingga murid belum tahu tentang program gerakan literasi sekolah.
Budaya baca bukan hanya tanggungjawab sekolah, namun juga bagaimana ekosistem keluarga dalam menumbuhkan budaya baca pada anak. Ekosistem budaya baca pada keluarga akan mengikis rentang jarak yang sangat jauh dan akan menemukan titik temu antara yang dilakukan di sekolah dengan pembiasaan di keluarga.

Strategi Menumbuhkan Budaya Baca

Paling tidak ada enam hal yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan budaya baca di sekolah. Pertama, guru harus ikut intervensi dalam menumbuhkan budaya baca. Guru harus memulai dari dirinya sendiri untuk membaca. Karena menumbuhkan pembiasaan dipengaruhi faktor lingkungan (nurture) dimana anak itu tumbuh dan berkembang.
Kedua, optimalisasi perpustakaan sekolah. Perpustakaan sebagai jantung literasi dan sentra pelayanan literasi harus dikelola dengan baik. Konsep baru harus dibangun bahwa perpustakaan bukanlah tempat tumpukan buku yang berdebu, tidak menarik, dan membosankan. Perpustakaan adalah tempat beragam koleksi buku, suasana nyaman, menarik, dan menyenangkan.

Ketiga, bentuk duta baca di sekolah. Terutama untuk membantu memberikan edukasi kepada murid lainnya serta menyampaikan program literasi di sekolah. Libatkan murid secara langsung dalam berbagai kegiatan literasi baik di dalam maupun di luar sekolah. Dengan demikian murid mendapatkan berbagai pengalaman baru yang dapat meningkatkan motivasinya.

Keempat, butuh sinergitas dari tri pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Menumbuhkan budaya baca sejak dini tidak hanya ditentukan peran tunggal sekolah. Namun juga sangat tergantung keterlibatan kekuatan sosial edukatif dalam masyarakat. Perluasan ke komunitas di luar sekolah sangat penting untuk dilakukan. Lingkungan keluarga dan sosial masyarakat akan turut serta menumbuhkan budaya baca murid.

Kelima, jadikan budaya baca masuk dalam sistem poin penilaian sikap murid. Poin bisa didapatkan, misalnya murid paling aktif sebagai pengunjung perpustakaan sekolah. Akumulasi rekap hasil poin tertinggi mendapatkan penghargaan dari sekolah.
Keenam, lakukan evaluasi secara berkala. Untuk mengetahui tingkat perkembangan dari proses yang dilakukan maka perlu dilakukan evaluasi. Dengan evaluasi ini dapat diketahui indikator apa saja yang perlu menjadi perhatian sekolah.

Proses Transformasi Diri

Strategi tersebut jika dilakukan secara sustainable akan menumbuhkan budaya baca yang muncul dari dalam diri setiap murid. Pada saat membaca sesungguhnya anak melakukan proses transformasi diri untuk peningkatan kualitas diri. Diyakini bahwa kemampuan baca seseorang sangat memengaruhi terhadap perilaku secara individu maupun sosial.

Seperti disampaikan oleh H Wirdarmono dalam tulisannya Bacaan Anak pada Pendidikan holistik, disebutkan bahwa bagi anak-anak, tingkat literasi tidak hanya berpengaruh pada pengembangan tingkat akademik yang lebih tinggi dan karier di bidang sosial ekonomi masa depan, tetapi yang sangat penting adalah pengembangan karakter mulia seorang anak. Penelitian Sarah Miles dan Deborah Stipek memperlihatkan bahwa murid Kelas III SD yang memiliki tingkat kemampuan membaca tinggi saat mereka sudah duduk di Kelas V ternyata lebih unggul dalam budi pekerti, empati, dan percaya diri dibanding dengan kelompok sebaya mereka yang saat Kelas III SD lemah tingkat kemampuan bacanya. (Kompas, 2/2/2016)

Tentu proses tranformasi diri itu tidaklah mudah. Banyak barrier atau penghalang yang dihadapi oleh anak-anak kita. Penghalang itu bukan hanya datang dari dunia yang jauh dari kehidupan mereka yang semestinya, tapi juga karena ketidakpedulian kita kepada mereka. Seperti disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib, bahwa anak-anak, yang muda, dan remaja, tidak hanya disemproti asap-asap yang menaburkan sihir tertentu, tapi di kamar mereka juga dikasih mainan-mainan baru yang mengasyikkan. Di komputer mereka dikasih aplikasi-aplikasi baru, games, atau olah animasi, atau apa pun, yang membuat mereka merasa nyaman di dunia maya sehingga menyangka yang maya itu adalah nyata. Inilah penyebab munculnya sindrom socio idiot, yaitu generasi yang tidak memiliki kepekaan sosial dan asyik dengan dunianya sendiri.

Membangun Peradaban Unggul

Budaya baca harus digerakkan dari segala lini, memerlukan gerakan bersama, dan dilakukan secara eternal, terus menerus. Kemuliaan pendidikan harus dirancang dengan peningkatan keterampilan literasi (literacy skills) murid. Gerakan literasi sekolah harus menjadi komitmen sebagai sebuah instrumen rekayasa struktural untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Dengan membaca terbitlah cakrawala baru yang lebih luas dan memperoleh pengalaman, akulturasi, serta kemungkinan dialetika dengan hasil membacanya. Dengan membaca anak didik akan mendapatkan pengetahuan yang semula tak diketahuinya (ma lam ya’lam). Pengetahuan baru tersebut akan membuka peluang dan kemungkinan tak terbatas yang dapat membuka peta kehidupan bagi anak didik. Membaca sebagai proses belajar yang tiada henti adalah upaya untuk menemukan kerangka formula dan kemungkinan di masa depan. Tidak ada investasi terbaik kecuali membekali anak-anak sejak dini dengan kemampuan baca yang baik. Dengan membaca akan tumbuh generasi berkualitas untuk membangun peradaban unggul.