Indonesia Bubar

206
DR. Dhimam Abror Djuraid

PİDATO Prabowo Subianto itu bisa bikin miris sekaligus “mringis”, karena katanya Indonesia bakal bubar pada 2030.

Kalau itu betul maka Indonesia hanya akan berumur 85 tahun. Kita tidak tahu yang dimaksud Prabowo Indonesia bubar sebagai negara kesatuan yang pecah menjadi negara-negara kecil, atau Indonesia benar-benar musnah dari muka bumi.

Mungkin yang dimaksud Prabowo adalah yang pertama. Indonesia sebagai negara kesatuan akan hilang karena terpecah belah. Tapi, bisa juga yang dimaksud Prabowo adalah Indonesia akan musnah total dari muka bumi.

Dalam skenario novel “The Ghost Fleet” yang dikutip Prabowo hanya disebut sepintas sebuah lokasi yang disebut sebagai “bekas Indonesia”.

Terlepas dari skenario novel itu, dalam perjalanan sejarah muncul dan musnahnya sebuah negara adalah hal yang biasa. Rata-rata usia negara-negara bangsa modern di Asia dan Afrika sekarang ini masih berada di kisaran 60 atau 70 tahun karena rata-rata merdeka setelah Perang Dunia II 1940-an.

Negara-negara modern di Eropa berada pada kisaran usia dua ratus sampai tiga ratus tahun. Amerika Serikat sudah tembus usia 200 tahun, tapi Uni Soviet tak bisa bertahan setengah abad. Yugoslavia yang sepantaran dengan Indonesia tak bisa bertahan setengah abad juga dan berantakan menjadi negara-negara kecil. Kekaisaran Inggris yang membentang dari Asia ke Afrika pun pecah berkeping-keping pada 1940-an. Bahkan sekarangpun Inggris mengalami kesulitan untuk mempertahankan eksistensi Britania Raya yang tidak pernah henti dirongrong perang dan teror oleh kelompok etnis yang ingin memisahkan diri.

Negara yang tercatat paling tua di dunia yang masih bertahan adalah San Marino di dekat Italia yang berdiri tahun 301 dan mulai punya konstitusi modern tahun 1600.

Penduduknya cuma 30 ribu dan semua wilayahnya berpegunungan. Mungkin di Indonesia negara ini cukup dipimpin seorang lurah daripada presiden.

Eropa ingin membentuk “negara kesatuan” dalam bentuk Uni Eropa untuk mengulang kebesaran di masa lalu, tapi sekarang Uni Eropa tak bisa menjadi kekuatan utuh karena sesama anggota saling beda kepentingan. Sejarawan Paul Kennedy menulis buku setebal seribu halaman berjudul “The Rise and Fall of Great Powers” (1987) melihat perkembangan negara-negara besar di dunia sejak 1500 sampai 2000. Argumentasi utama Kennedy adalah bahwa negara-negara besar bisa bertahan kalau tersedia sumber daya alam untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Ekspansi militer yang berlebihan akhirnya menggerogoti ekonomi dan berakhir pada ambruknya kekuasaan.

Pada masa-masa imperialisme Eropa muncul kekuatan baru seperti Inggris, Prancis, Prusia, Austria-Hongaria, dan Rusia. Revolusi industri pada 1900 membuat Eropa menjadi pusat kekuatan ekonomi dan militer yang terus berlomba mencari sumber daya alam untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Perebutan dan persaingan ini membawa kepada Perang Dunia II. Kekuatan besar lama rontok dan muncul kekuatan baru. Amerika menjadi pusat kekuatan baru. Uni Soviet menjadi pesaing yang paling ambisius. Tapi Soviet yang disatukan oleh kekuatan diktatorial akhirnya ambruk disusul oleh Yugoslavia yang lebih kurang sama kondisinya dengan Soviet. Bangsa-bangsa yang berbeda itu dipaksa bersatu dengan melalui kekuasaan diktatorial.

Semakin heterogen sebuah negara semakin berat mempertahankan kesatuannya. Begitu tesis Kennedy.

Kennedy percaya kepada determinisme sejarah dan hanya melihat faktor-faktor materialistis.

Lalu, bagaimana nasib Indonesia? Negara besar yang heterogen dengan bentuk kesatuan sudah tidak ada presedennya di dunia. Dari empat negara berpenduduk terbesar di dunia hanya Indonesia yang paling heterogen. China adalah negara besar homogen, India juga homogen dan bentuk negaranya federasi seperti Amerika.

Karena itu, wajar saja muncul godaan pertanyaan apakah NKRI masih tetap menjadi harga mati.

Apa yang kita harapkan menjadi perekat negara kesatuan Indonesia? Tidak mudah menjawabnya. Negeri kita ini memang negeri yang unik tidak ada duanya di dunia. Pulau-pulau belasan ribu, ratusan suku, budaya, dan bahasa. Untungnya, meskipun perbedaan begitu banyak tapi kita sepakat bahwa kita semua tetap satu jua, meskipun kita tidak tahu secara pasti kita ini satu dalam hal apa.

Bangsa, nasionalisme, adalah konsep yang kabur dan bahkan, menurut Benedict Anderson, hanya ada dalam angan-angan saja. Kita ini tidak pernah benar-benar menjadi komunitas yang menyatu kecuali dalam angan-angan saja, Imagined Community, kata Anderson. Tetapi, justru dalam angan-angan bersama itulah kita punya kekuatan untuk senantiasa menjadi satu.

Elizabeth Pisani penulis buku “Indonesia, etc: Exploring the Improbable Nation” (2015) terheran-heran melihat bangsa kita. Setelah melakukan perjalanan intensif berbulan-bulan ke pelbagai pelosok ia bertanya-tanya apa yang bisa tetap membuat bangsa ini rekat.
Pisani tahu ada perekat kuat yang melekatkan bangsa ini meski ia tak bisa menjelaskannya. Seperti komunitas angan-angan Anderson, Pisani melihat bangsa ini terikat kuat oleh sesuatu yang tak tampak.

Salah satu yang dilihat Pisani adalah Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pemersatu. Pengalaman sejarah masa lalu di bawah kolonialisme juga menjadi perekat bangsa ini. Selain itu cita-cita kuat untuk berpenghidupan yang sejahtera menjadi kekuatan besar yang tak tampak dan menjadi lem perekat bangsa.

Perekat-perekat itu ada meskipun tak tampak jelas. Dan, selama perekat itu ada Indonesia akan tetap ada.

Pisani menyebut bangsa ini dilahirkan tergesa-gesa, tanpa persiapan yang matang. Ia menelaah dalam teks proklamasi terdapat kata “dll, dan lain-lain…” (dalam bahasa Inggris disebut et cetera disingkat etc) yang menunjukkan ketergesa-gesaan dan ketidakpastian dalam merumuskan problem-problem yang bakal dihadapi bangsa ini.

Tapi, kata Pisani, para pendiri bangsa ini punya keberanian mengambil risiko, yang penting merdeka dulu, urusan “dll” diselesaikan belakangan. Tiba masa tiba akal. Begitulah bangsa kita ini. Sampai sekarang urusan “dll” itu masih teramat kompleks dan sulit diatasi.
Meski demikian, Pisani merasa “negeri dll” ini akan tetap bisa bertahan.

Tapi, urusan “dll” ini bisa mengancam eksistensi bangsa ini. Lihatlah daftar “dll” yang panjang itu; korupsi, utang luar negeri, kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, pemimpin yang tidak kompeten, “dll”.

Persoalan-persoalan itu bisa saja menjadi pemicu pecahnya negara kesatuan kita.

Kita bisa menyelesaikannya dengan mantra “tiba masa tiba akal”. Tapi, bukan sekadar menunggu problem datang baru kita atasi, tapi lebih dengan antisipasi dan persiapan yang lebih matang.