Pilgub, Sandiwara Dipanggungkan

281

Oleh: Gempur Santoso

Berbagai istilah orang menyebut tentang mengapa hidup. Antara lain. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah perang. Hidup adalah panggung sandiwara. Hidup adalah pengabdian. Dan lain sebagainya. Katakanlah semua benar. Jangan lupakan kepada Yang Maha Pemberi Hidup.

Tetangga belakang rumah, yang biasanya hanya menjadi ibu rumah tangga saja, sekarang ngojek online. Suaminya teman ngobrol saya. Seorang sopir sebuah bank swata, semacam BPR. Seiring putra putrinya besar, maka ibu ikut membantu kerja ngojek online. Putra pertama SMK, yang kedua putri di SMP. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Nah, itu termasuk hidup adalah perjuangan. Memperjuangkan kelangsungan hidup. Memperjuangkan keberhasilan putra putrinya.

Menengok yang lain. Tetangga di depan rumahnya tertulis “rumah dijual”. Pengakuannya karena usaha sepi, mau balik ke rumah orang tua. Dia punya usaha pembuatan frim screen sablon. Frim terbuat dari aluminium. Frim screen pesanan perusahaan untuk menyablon tulisan dan merk.

Saat ini perusahaan sablon merk tidak lagi manual, sudah pakai mesin aoutometicly. Itu membuat pesanan frim screen menjadi sepi.

Terpakasa rumah dijual, untuk modal usaha lain. Tak tahu mau pindah usaha apa. Itulah memang hidup adalah perang. Termasuk perang bisnis. Perang mempertahankan hidup. Jatuh bangun. Paling berat memang perang melawan hawa nafsu sendiri.

Menengok yang lain. Pilgub Jatim. Kita pasti yakin para calon gubernur dan wakil gubernur adalah orang yang punya modal duit cukup. Bahkan lebih. Ataupun, dimodali botoh. Modal intelektual cukup. Modal politik juga cukup.

Calon, dari kader partai A, dicalonkan oleh partai B atau C. Tak pernah ikut partai bisa juga diusung partai. Anggota partai dadakan.

Sudah bukan hal tabu. Tidak lagi ada idealis harus kader partai. Bahkan tampak politik praktis saat ini tidak ada kader partai. Partai hanya kendaraan pengusung.

Pilgub Jatim. Kedua kubu pun berasal dari ormas keagamaan yang sama. Bertarung hebat. Sudah debat publik. Sedikit debat kusir. Hidup memang sandiwara.

Para calon selumnya sudah bertahta. Pernah jadi menteri. Bahkan masih jadi menteri. Mundur nyagub. Jadi wagub, cuti, nyagub.

Jadi bupati. Mundur nyawagub. Sekjen ormas tingakat nasional, nyawagub.

Ada apa dengan Jatim. Ada apa dengan merubut tahta baru gubernur atau wakil guburnur. Walau tahtanya belum sampai selesai, ditinggalkan.

Untung materikah? Serakah? Ngejar prestisekah?.

Atau, memang sungguh akan membuat Jatim menjadi rakyatnya adil makmur dan modernkah?.

Belum tampak jelas program untuk keadilan dan kemamuran rakyat. Justru rakyat difasilitasi diekspor jadi TKI yang tampak. Rakyat Jatim dititipkan ke negara lain.

Bela yang benar tergantung yang bayar. Pengurus partai bekerja seperti even organiser (eo) tergantung pesanan. Ngusung panggung untuk penumpang.

Menilik hidup ini hanya sandiwara, kita rakyat kecil tetap rukun saja. Jangan tengkar, jangan fanatik kubu-kubuan.

Tetap jalin silaturohim, sedulururan. Tingkatkan kerjasana membuat kebaikan, bisnis, bertani, berdagang dan sebagainya. Saling menguntungkan.

Berkali kali ganti gubernur, tetanggaku yang lain pejual degan dan kupang lontong. Sampai saat ini pun masih tetap penjual degan dan kupang lontong. Bahkan jualnya di tempat yang sama. Rombong pinggir lereng jalan.

Data statistik jumlah kemiskinan menurun. Di desa jumlah kemiskinan malah naik. Kemiskinan turun tertulis di data BPPS. Seperti harga beras murah di berita TV. Beli beras di toko lebih mahal.

Jadi ingat.., Dunia ini panggung sandiwara……ceritanya mudah berubah, lagu dinyanyikan Ahmad Albar.