Kelas Inspirasi Literasi

204

Penulis adalah Guru SMK Negeri 1 Sidoarjo
Drs. Kasianto, M. Si.
SMK Negeri 1 Sidoarjo
Jl. Monginsidi (Timur Polres) Sidoarjo
081331218195, 082140680107

Peradaban mutakhir pada abad 21 ini menuntut murid untuk memiliki kualitas karakter, kompetensi, dan literasi dasar. Proses belajar adalah cara terbaik untuk menumbuhkan kualitas tersebut. UNESCO telah mencanangkan empat prinsip belajar di abad 21, yaitu: belajar berfikir, belajar berbuat, belajar menghayati, dan belajar hidup bersama. Keempat pilar prinsip belajar tersebut sangat ditentukan pada kemampuan literasi (literacy skills).
Kegiatan literasi dalam dunia pendidikan adalah keniscayaan. Dengan kegiatan literasi insan pendidikan secara berkelanjutan diajak untuk selalu meningkatkan kesanggupan, kemampuan, dan keterampilan, serta minat dalam hal membaca dan menulis. Selain membaca dan menulis, kegiatan literasi memberi peluang untuk meningkatkan keterampilan berpikir menggunakan berbagai sumber baik cetak, visual, digital, maupun auditori.
Membangun budaya literasi di satuan pendidikan sangatlah tidak mudah. Ada beragam tantangan yang akan dihadapi oleh guru maupun sekolah. Apalagi menyangkut sumber daya manusia yang beraneka ragam karakternya. Lingkungan murid, masifnya perkembangan teknologi, akses keterbacaan buku, sampai pada sosial ekonomi murid.
Untuk mengambangkan proses pembelajaran dan budaya literasi paling tidak guru harus memahami karakteristik murid. Maka idealnya guru dalam proses pembelajaran dan pengembangan budaya literasi harus mengacu pada karakter tersebut. Jika tidak, maka apa yang dibutuhkan oleh murid tidak akan didapatkan dari guru. Hal ini menjadi salah satu tantangan yang harus segera diselesaikan pemecahannya. Karena kalau tidak akan terjadi gap atau penyimpangan yang semakin lebar antara pelayanan yang diberikan guru dengan kebutuhan belajar murid.

Strategi Kelas Literasi
Untuk menunjang tercapainya program literasi diperlukan berbagai langkah dan strategi. Peran guru baik sebagai wali kelas maupun dalam proses pembelajaran menjadi inspirator bagi murid. Guru harus menjadi role model agar murid mudah disentuh hatinya untuk mengembangkan kompetensinya. Guru harus berusaha untuk lebih menekankan keterampilan literasi. Tidak hanya pada aktivitas membaca, tapi juga melatih bagaimana murid mampu merespon informasi dan mampu menerapkannya. Apakah itu mudah? jawabannya adalah tidak. Ada beragam kendala yang saya temui untuk menumbuhkan budaya literasi pada murid. Mulai dari keterbatasan bahan bacaan, waktu, dan kondisi sosial ekonomi murid.
Sebagai guru, dalam melakukan proses pembelajaran penerapan literasi disesuaikan dengan sintak pembelajaran sesuai dengan materi. Pada proses ini kegiatan mengamati, membaca, mengolah informasi, mengkomunikasikan, sampai pada penerapan dilatihkan kepada murid. Artinya, dalam proses ini saya berusaha agar kemampuan literasi murid semakin terasah karena mereka langsung menerapkannya. Apalagi, materi yang saya ajarkan lebih dominan materi kinestetik.
Langkah berikutnya adalah mengisi perpustakaan mini tersebut dengan koleksi buku dan hasil karya sesuai dengan keahliannya. Koleksi buku diperoleh dari murid dalam kelas tersebut ataupun dari wali kelas dan beberapa guru lainnya. Selain itu administrasi kelas ditambah dengan katalog koleksi buku, daftar peminjam, dan daftar kunjungan. Dengan adanya perpustakaan mini tersebut sangat mendukung program sekolah 15 menit membaca selain buku pelajaran sebelum pelajaran dimulai. Karena koleksi yang ada dapat dijadikan oleh murid di kelas sebagai bacaan setiap hari. Selain itu keberadaan perpustakaan mini dapat menumbuhkan kebanggan pada kelas.
Sedangkan di luar proses pembelajaran menumbuhkan budaya literasi dapat dilakukan dengan mendokumentasikan dan mempublikasikan berbagai tulisan hasil karya guru dan murid untuk dimuat berbagai media ataupun di mading sekolah. Hal yang tidak kalah penting guru harus menjadi teladan karena murid akan mudah diajak untuk mengembangkan literasi jika guru telah memberikan contoh nyata. Disinilah dibutuhkan komitmen yang sama dari guru agar kegiatan literasi bisa diajarkan, dididikkan, dan dibudayakan untuk membekali murid dengan kemampuan literasi yang memadai.

Guru Sebagai Teladan
Kegiatan dan usaha tersebut untuk menjadi kelas inspirasi bagi murid sehingga mampu merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas karena peserta didik menemukan role model yang dapat dijadikan contoh atas perjalanan hidupnya. Karena tidak jarang peserta didik akan tersentuh motivasinya kalau melihat langsung proses yang sudah berjalan. Kita sebagai guru tidak pernah tahu kelak murid yang kita bina akan menjadi apa. Namun yang pasti pengalaman yang kita berikan akan memberikan dorongan dalam perjalanan hidupnya.
Penguatan literasi adalah cara terbaik membekali murid. Secara alamiah literasi adalah kebutuhan dasar setiap anak. Umat manusia di peradaban apa pun meyakini bahwa anak-anak harus belajar membaca dan menulis. Dalam kontek kekinian, kemampuan literasi tersebut sangat berkorelasi dan penting. Bahkan untuk membangkitkan peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat kualitas membaca dalam arti yang luas. Mulai kemampuan mendengar, merespon, membaca teks, menuliskan apa yang telah dibaca, sampai pada penerapannya.
Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara juga telah memberi pesan agar guru dalam proses pembelajaran menyentuh berbagai dimensi anak. Beliau mengatakan “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.”
Sekolah terbaik bukanlah sekolah yang input dan outputnya baik. Tapi sekolah terbaik adalah sekolah yang memberikan perioritas pada prosesnya. Apalagi sekolah tersebut inputnya berasal dari heterogenitas murid, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun akademiknya. Sekecil apa pun yang kita usahakan dalam menumbuhkan budaya literasi akan memberikan pengalaman dan dampak yang besar bagi kualitas hidup anak didik kita. Dengan kekuatan motivasi dan seed of dream (benih mimpi) yang ditularkan melalui kelas inspirasi literasi diharapkan terlahir generasi emas yang akan mampu bersaing secara global untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.