KATA ORANG PASAR SENI KE 46

183

Oleh: Hendro Tan
Pencinta Seni/Pemilik Galeri

SEWAKTU gue memperhatikan wa grup di hp yang mengulas watak budaya romantik dg memvonis  Frederick William III sebagai raja yang egois dan berani meminta pada editor koran sejumlah uang jaminan bagi kelakuan baik mereka tahu-tahu suara gemuruh memekak dg seklebatan merah, sejenak gue perhatikan oh sebuah mobil sport warna merah permen melihat bentuk ekor sepertinya Ferrari, ” Jiancuk ! ” spontan keluar umpatan dari mulut gue yang mulai perot ini karena merasa terganggu bahkan kaget oleh ulah orang super kaya eh eh .. mengapa gue ikut terjebak dengan budaya politik membenci bahkan pada yg sugih mapan ?

Jadi malas meneruskan ulasan pada Frederick gue ganti saja membaca buku pasar seni yg tempo hari terpending, pada hal buku ini sebelumnya sudah dua kali gue baca habis, tetapi serasa masih kurang teresapi, dan gue pernah membaca buku berulang sampai 5 kali, walau rentang waktunya -/+ 10 hari. Kembali ke topik buku pasar seni menurut penulis, seni hanya dapat dipelajari secara historis, tetapi ia mengandung otonomi nisbi. Pada dirinya sendiri seni yg tumbuh di masyarakat belum dewasa tidak akan berdaya untuk mengemansipasi kan manusia yang bertarung dalam masyarakat kelas juga tidak mampu menyuarakan perlawanan pada politik identitas, politik populis, politik agama, sampai dengan humanismenya.

Wah .. kalau mengikuti kata penulis buku ini, sepertinya akan berlama-lama jika berharap ada seniman kita yang diundang oleh Documenta Kassel, kata seorang teman kolektor yang pernah membaca buku yg sama.       “Dia meneruskan” Apakah untuk sementara ini perhatian kolektor perlu dipindahkan dulu ke Arin Rungjang perupa Thailand yg karyanya sudah masuk di Documenta Kassel pada th 2017 ? ”

” Tidak perlu kita ambil risiko utk seniman asing, karena karya Arin Runjang sudah diperebutkan pasar Eropa dan sudah tinggi sekali harganya, selain barang susah didapat. Tunggu saja pasti akan muncul nama seniman kita yang diundang oleh Documenta Kassel ” jawabku. Dan mereka itu seniman muda mudi jaman now, yang nyali dan mentalnya jempolan, selain kepandaian dan kecerdasannya menonjol, lihat saja nanti.

Pada penghujung tulisan ini, saya kutip sebuah kalimat Pram yang inspiratif. ” Pada masa-masa yang bergejolak, para seniman didesak untuk mengkaji kembali keberadaan mereka “.

Hanya seni kawan milikmu sendiri dan pasar seni milik kita bersama .

Tgl 2 Februari 2018

Hendro Tan