Nasib, Nasab, Nishab

138

Oleh: Dhimam Abror Djuraid 

Wartawan Senior

 

PERANG politik di tahun politik 2018 ini adalah perang nasib, nasab, dan nishab. Banyak yang percaya bahwa politik adalah takdir. Politik adalah garis tangan. Politik adalah nasib. Banyak yang percaya bahwa seseorang bernasib mujur atau hancur tergantung nasib. Nasib, bisa dimaknai positif sebagai takdir Ilahi yang harus dicari melalui kerja dan ikhtiar. Ada pula yang menganggap bahwa kekuasaan bisa turun dari langit begitu saja tanpa perlu susah-susah bekerja. Dalam politik pun itu berlaku.

Ada yang percaya bahwa kalau sudah digariskan nasib, apapun bisa terjadi termasuk menjadi presiden sekalipun. Nasab juga memainkan peran penting dalam politik. Nasab adalah silsilah keturunan, cikal-bakal, tedak-turun, siapa keturunan siapa, siapa anak siapa, atau siapa, menantu siapa. Dalam budaya tradisional yang feodalistis, nasab mempunyai peran penting. Seseorang bisa mendapatkan perlakuan istimewa hanya karena kebetulan keturunan orang-orang tertentu. Seseorang menikmati privilege tertentu hanya karena menyandang gelar sosial tertentu. Seseorang menikmati hirarki sosial keagamaan tertentu karena keturunan orang-orang tertentu. Tanpa kerja keras, tanpa ikhtiar seseorang mendapatkan privilege sosial hanya karena kebetulan mengalir darah keturunan tertentu.

Orang menyebutnya politik dinasti, politik keturunan, politik primordialisme. Semuanya adalah atribusi terhadap aktivitas politik yang dianggap tidak modern. Politik nasab, politik dinasti sudah ada sepanjang peradaban manusia, dan tetap ada di zaman milenial sekarang ini. Sudah ada demokrasi tapi masih tetap ada juga monarki. Di negara-negara demokrasi paling modern seperti Amerika Serikat pun politik dinasti masih ada. Mulai dari dinasti Kennedy, dinasti Bush, atau juga keluarga Clinton.

Di Indonesia, politik nasab terasa sangat kental. Tuah Soekarno masih sangat kuat menjadi daya tarik. Anak-cucu Soekarno tetap menjadi daya tarik politik yang kuat. Soekarno, mungkin, tidak secara sengaja membangun dinasti politik. Tapi, sampai sekarang anak turunnya mendapatkan berkah dan tuah dari Soekarno. Orang lain yang tidak punya nasab politik harus kerja keras pontang-panting untuk mendapatkan jabatan politik. Tapi anak ketuurunan Soekarno bisa mendapatkannya tanpa harus bersusah-payah. Bahkan, banyak juga yang tidak perlu turun ke konstituen di daerah pemilihan, tapi tetap terpilih setiap lima tahun. Keluarga Yudhoyono sekarang sedang membangun sebuah dinasti.

Dua anaknya, keluarga besarnya, dipersiapkan dengan cermat untuk menduduki posisi-posisi kunci politik nasional. Politik nasab masih sangat penting di Indonesia. Seorang suami menyiapkan istrinya untuk meneruskan jabatan politiknya. Seorang ayah mempersiapkan anaknya untuk melanjutkan jabatannya. Di level kabupaten, kota, provinsi sampai nasional, fenomena itu terlihat. Nishab juga memainkan peran yang sangat penting dalam politik di Indonesia. Belakangan ini tengah ramai dibicarakan soal nishab politik. La Nyalla Mattalitti yang sangat ingin maju dalam kontestasi gubernur Jawa Timur menjadi frustrasi karena merasa terganjal oleh nishab politik. Nishab adalah batasan jumlah harta untuk mengukur seseorang sudah wajib mengeluarkan zakat atau tidak.

Tentu, nishab tidak ada hubungannya dengan politik. Sama dengan istilah mahar tidak ada hubungan dengan politik tapi sekarang dikait-kaitkan dengan politik. Tanpa mahar politik, sulit mendapat dukungan politik. Bagi yang tidak cukup nishab-nya sebaiknya tak terjun ke politik. Tentu saja politk perlu biaya. Tapi, money politics alias politik uang bisa merusak demokrasi. Celakanya politik uang sulit dihindari. Uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang. Begitu kata kalangan yang skeptis. Di perhelatan tahun politk 2018 ini persaingan nasib, nasab, dan nishab akan terjadi.

Di Jawa Tiuur juga demikian. Pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Sukarnoputri akan bersaing melawan Khofifah Indar Parawansa-Emir Elistianto Dardak. Tentu saja, pada akhirnya, bagi kita yang percaya kepada takdir, nasib-lah yang menentukan siapa yang akan menjadi gubernur Jawa Timur. Urusan nasab menjadi isu yang paling ramai dibicarakan karena pasangan Saifullah-Puti disebut-sebut yang paling mempunyai kelebihan nasab. Saifullah adalah cicit pendiri Nu (Nahdlatul Ulama) K.H Hasyim Asy’ari, sedangkan Puti adalah cucu langsung presiden pertama RI, Soekarno. Masih harus dilihat seberapa penting pengaruh faktor nasab di pilgub Jatim. Dilihat dari komposisi demografi Jatim yang cukup didominasi oleh kalangan nahdliyyin (pengikut NU) dan kelompok nasionalis pendukung PDI-P, bisa jadi faktor nasab akan memainkan (atau dimainkan) peran yang cukup penting.

Dalam beberapa publikasi sudah sempat dimunculkan foto K.H Hasyim Asy’ari dan Soekarno sebagai latar belakang gambar pasangan Saifullah-Puti. Kelompok yang berseberangan dengan Saifullah sudah mengantisipasi politik nasab ini dengan mengungkapkan bahwa Saifullah bukanlah nasab langsung K.H Hasyim Asy’ari. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa politik nasab di Jatim sedang terpecah karena terpecahnya suara ‘’ahlul bait’’ kelompok keluarga keturunan K.H Hasyim Asy’ari. Gus Sholah, cucu K.H Hasyim Asy’ari menjadi pendukung utama Khofifah yang berarti berseberangan dengan Saifullah, keponakannya sendiri.

Di sisi lain, Puti Guntur Soekarnoputra tampaknya akan menikmati dividen politik nasab karena legitimasinya sebagai keturunan langsung Soekarno. Setelah punya nasab, setelah nishab tercukupi, semuanya akan bergantung kepada nasib. Kalau nasabnya bagus, nishabnya cukup tapi nasib belum baik, berarti nasib memang belum berpihak. Ya nasib! (*)