Sebelum Kampus STAIN beralih Menjadi IAIN, Petinggi Kampus Panggil Dua Mahasiswa

    568

    PAMEKASAN (Swaranews) – Dugaan sifat arogansi yang dilakukan oleh petinggi kampus terbesar diPamekasan yakni STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ) Pamekasan, yang dilakukan terhadap mahasiswa dengan dalih menyalahi kode etik sebagai mahasiswa, Senin (2/10/17)

    Kejadian pemanggilan sidang tersebut kepada Ahmad Jalaluddin Faisol sebagai mahasiswa STAIN sekaligus jurnalis Pamekasan, serta terhadap Joni Iskandar yang juga merupakan mahasiswa yang aktif sebagai aktivis mahasiswa Pamekasan.

    Awal pemanggilan tersebut berasal dari munculnya dua berita yang ditulis oleh saudara Faisol dengan judul “Petugas Perpus STAIN Pamekasan Tidur Saat Jam Kerja” dan “Dosen dan Mahasiswa STAIN Pamekasan Keluhkan Proyektor Baru Tak Bermanfaat.” Akhirnya melahirkan surat pemanggilan kode etik kampus STAIN Pamekasan dengan tuduhan pencemaran nama baik Institusi serta terdapat poin terkait Vonis atau hukuman terhadap yang bersangkutan, sebelum keduanya di sidang dan terbukti bersalah.

    Faisol saat dimintai keterangan oleh awak media terkait pemanggilan kode etik terhadap dirinya pihaknya mengatakan, bahwa berita yang dimuat dimedianya merupakan berita fakta dan realita bukanlah rekayasa, padahal dalam pemberitaan tersebut pihaknya hanya untuk memberikan motivasi terhadap pihak kampus agar lebih lagi serius dalam pembangunan Kampus.

    “Berita yang dimuatnya di jatimaktual.com, bukanlah rekayasa, namun berdasarkan fakta yang ditemukannya sendiri dilapangan. Berita tersebut tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik kampus, namun hanya menguak realita temuan dan harapan agar dapat menjadi langkah dalam pembenahan kampus STAIN,” ucapnya, Minggu malam, 01/10/2017.

    Selain itu ditempat yang berbeda, Pimpinan Redaksi (Pemred) media yang di pegang oleh Faisol (Muhri Andika) pihaknya mengungkapkan bahwa realita terpanggilnya Faisol terkait dengan adanya pemberitaan yang ditulis dimedianya itu patut dipertanyakan, serta alumni Stain tersebut juga mengatakan bahwa masih banyak kasus-kasus lain yang lebih cenderung terjadi pembiaran.

    “Realita dipanggilnya saudara Faisol dengan pemberitaannya benar-benar dipertanyakan, karena masih banyak kasus-kasus lain di STAIN Pamekasan yang melanggar Kode Etik Mahasiswa, namun cenderung terjadi pembiaran,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, di Perumahan Ghara Pamekasan.

    Tak hanya itu, dengan terjadinya kasus yang menimpa mahasiswa STAIN Pamekasan yang sebentar lagi akan disahkan menjadi IAIN tersebut mendapat sorotan dari ketua IWO Madura Raya, karna Faisol juga merupakan mahasiswa Stain Pamekasan dan bagian dari anggota Kesejahteraan IWO Madura Raya, Ketua Umum IWO Madura Raya, Alam Massiri sangat menyayangkan dengan sikap arogansi petinggi kampus Stain Pamekasan, dengan diterbitkannya pemanggilan sidang kode etik mahasiswa No.16/DKPKEM/IX/2017, yang ditanda tangani langsung oleh Ketua Dewan Penegak kode etik mahasiswa STAIN Pamekasan Dr. Maimon, S.Ag, M.H.I.

    “Jujur, saya sangat menyayangkan terbitnya surat pemanggilan itu terhadap saudara Faisol, karena benar-benar mengebiri kebebasan Pers dengan dalih melanggar kode etik mahasiswa. Saya yakin, saudara Faisol, sangat paham dengan Kode Etik Jurnalistik, sehingga menuliskan temuannya, apalagi pada pemberitaan tersebut, masih memberikan hak jawab bagi pihak kampus terkait realita yang ditemukannya,” ujarnya.

    Joni Iskandar saat dikonfirmasi melalui via WhatsAppnya mengatakan, dengan terbitnya surat Pemanggilan Kode Etik tersebut kepada dirinya, Pihaknya mengatakan banyak terima kasih kepada pihak Kampus STAIN Pamekasan, karena pihaknya merasa selama ini kritik membangun yang diciptakan untuk kesejahteraan kampus khususnya kenyamanan dalam kegiatan belajar mengajar mendapat perhatian penuh, sehingga kritikan dan niatan tulus untuk membangun kampus tidak diindahkan dan harus ditukar dengan pemanggilan Kode Etik terhadapnya.

    ” Saya sangat berterima kasih kepada petinggi kampus Stain Pamekasan, karna dengan terbitnya surat pemanggilan Kode Etik ini berarti keluh kesah mahasiswa tersampaikan kepada pihak rektorat, dan niat tulus saya membangun STAIN Pamekasan lebih baik, diterima dengan legowo, meski saya nantinya mendapat sanksi dari kampus STAIN, namun yang terpenting jujur hak karna Allah, kritik saya adalah kritik membangun,” tegasnya

    Luthfiadi