Jangan Jadi Biasa Kalau Bisa Luar Biasa

    43

    SURABAYA (Swaranews) – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberi pengarahan kepada mahasiswa-mahasiswi asuh UPTD Ponsos Kalijudan berprestasi yang menerima beasiswa dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Mereka berhak mendapat beasiswa karena berasal dari keluarga tidak mampu.

    Dalam sambutannya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, tujuan anak-anak asuh diberi beasiswa oleh pemkot agar berhasil di bidang masing-masing dan kelak mampu mengangkat martabat orang tua, keluarga, Kota Surabaya dan bangsa Indonesia.

    Disampaikan Risma, tantangan ke depan jauh lebih berat, karena setelah lulus mereka akan bersaing dengan anak-anak di dunia. Oleh karenanya, wali kota meminta kepada anak-anak tersebut untuk tidak melewatkan kesempatan ini.

    “Jangan disia-siakan, harus belajar apapun bukan hanya di dalam kampus tetapi diluar kalian bisa mendapatkan pengalaman apapun. Jangan hanya cari nilai dan dapat ijazah lalu selesai. Wujudkan pengalaman dan kesuksesan dengan sebenar-benarnya,” tegas Risma di UPTD liponsos Kalijudan pada Sabtu, (23/9/2017).

    Dengan adanya beasiswa ini, Wali Kota berharap agar anak-anak mau belajar ilmu apapun, tidak hanya berfokus pada bidangnya saja. Sebab, sambung Risma, tidak ada ilmu yang tidak berguna dan kelak di kemudian hari anak-anak inilah yang akan menjadi penerus Kota Pahlawan dan Bangsa Indonesia.

    “Saya tidak ingin kalian jadi penonton di kotanya sendiri, tapi kalian harus menguasai kota ini. Jangan jadi biasa jika kalian bisa melakukan yang luar biasa,” pungkas Wali Kota sarat akan prestasi itu.

    Ditempat yang sama, Kepala UPTD Ponsos Kalijudan dan Kampung Anak Negeri Erni Lutfiyah mengatakan, sebanyak 374 anak asuh UPTD Ponsos Kalijudan yang lolos seleksi namun setelah difilter lebih dalam diputuskan hanya 357 kuota beasiswa yang diberikan.

    “Berdasarkan hasil survei yang dilakukan teman-teman, 17 anak yang tidak jadi diberi beasiswa karena mereka berasal dari keluarga yang tergolong mampu, padahal kita kan pengennya anak yang benar-benar tidak mampu,” kata Erni saat ditemui di ruang kerjanya.
    Disampaikan Erni, selain mendapat beasiswa, mahasiwa-mahasiswi ini juga mendapat uang transport sebesar Rp 400.000 per bulan dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) maksimal sebesar Rp 3 juta. “Khusus untuk pembayaran UKT melebihi 3 juta, sisanya akan ditanggung mereka sendiri, sebaliknya jika UKT yang mereka bayar hanya 500 hingga 1 juta, kelebihan tersebut akan kita kembalikan ke kas negara,” jelasnya.

    Dari 357 kuota itu, sebanyak 261 kuota untuk program sarjana di perguruan tinggi negeri sedangkan tingkat pendidikan program diploma dihuni 96 anak.

    “Untuk program sarjana di perguruan tinggi negeri terdiri dari ITS (16 orang), UNAIR (65 orang), UNESA (95 orang), UINSA (48 orang) dan UPN (37 orang). Sementara untuk program diploma terdiri ITS (21 orang), UNAIR (39 orang), UNESA (6 orang) dan POLTEKES (31 orang),” urai Erni. (mar)