MONTIKOR ( MONUMEN ANTI KORUPSI )

177

Oleh: Gus Nuril

SwaranewsWACANA hak angket tentang KPK, beberapa minggu terakhir ini memang memenuhi langit sosmed dan televisi, semua terpusat pada ambivalen wakil rakyat di kerajaan DPR RI terhadap komitmen pemberantasan korupsi.
Wibawa wakil rakyat yang semakin terpuruk ini berbanding lurus dengan kepercayaan rakyat atas lembaga ini yang jatuh dibawah titik nadzir. Namun seperti membabi buta, membuta tuli dan ndableg tidak ketulungan para wakil rakyat yang terhormat ini tidak peduli dengan ruh keadilan rakyat. Mereka tetap saja ngotot akan membongkar dan membuyarkan setitik harapan rakyat yang di berikan oleh KPK.
Pendek kata sebelum para koruptor ini di tangkap sebagai tersangka KPK, MEREKA memakai lembaga terhormat ini untuk membubarkan terlebih dahulu. Rakyat membaca itu semua. Rakyat paham, dan tahu, maka mereka yang menyalurkan ide penyelamatan KPK membentuk monumen. Mereka menamai monumen itu dengan sebutan Montikor.

Ide bagus
Rencana pendirian Montikor atau Monumen Anti Koruptor ini ide yang bagus. Sekurang kurangnya untuk memberikan label atau stempel abadi bagi pelanggar rasuah di negeri tercinta, Nusantara ini.
Seperti di maklumi, di Tiongkok semua koruptor di tembak mati, tetapi di Indonesia malah di undang ke istana , di gelari karpet merah. Di lain negara lain, Jepang misalnya pada bunuh diri, di di Indonesia, mereka menerapkan jargon pejuang “maju terus pantang mundur “. Bahkan tetap memimpin DPR, menjalankan fungsi kepala daerah, baik di Kabupaten, Kota maupun level gubernur dan menteri.

Melihat kondisi yang carut marut ini, tanpa adanya kepastian hukum yang baku, maka Komando harian Srikandi PGN pusat, Sisca Rum, membangun sebuah monumen . Monumen peringatan bagi para Koruptor.
Jika koruptor di Indonesia tidak di tembak mati sekurang kurangnya akan di kenang sebagai penjarah harta rakyat, dan namanya di pamerkan di monumen Anti Korupsi.
Monumen monumen ini akan dibangun di setiap provinsi berisi masing masing nama nama koruptor di daerah, dan… supaya datanya tidak hilang akan disimpan di monumen pusat.

Biasanya hukum formal atau hukum verbal yang tidak membikin efek jera, karena berbagai alasan imun moral, juga lama hukuman paling hanya dilakoni terpidana paling lama 50 persen, dari vonis yang ditetapkan hakim pengadilan. Ditambah dengan adanya grasi, amnesti dan pengurangan hukuman disetiap hari hari besar negara, lama hukuman yang harus di jalani terpidana paling tinggal sepertiganya.
Tambahan dengan banyaknya koruptor yang di tangkap memeberikan kesan seolah olah korupsi itu hal yang biasa tidak memalukan lagi. Atau mengurangi efek malu bagi terpidana nya. Maka, supaya unsur “kemaluan ini ” membesar, nama mereka ditasbihkan di monumen yang tidak akan hilang sampai anak cucu nya.
Diharapkan Monumen Ini akan berpengaruh, ketika agama hukuman Tuhan dan hukum manusia sudah dibuat barang mainan.
Besuk siang PGN dan semua elemen rakyat akan datang sambang ke gedung KPK. Monumen mini ini dibawa kesana, ebelumnya dibawa ke gedung DPR RI. Miniatur monumen itu untuk di jadikan sebagai pelengkap demo anti hak angket DPR yang akan menggembosi KPK dan dijadikan penyalur syahwat kekuasaan DPR yang sedang dibidik KPK. (*)