Menjelang Ramadhan, Harga Pangan Diawasi Satgas

268

JAKARTA (Swaranews) – Satuan Tugas (Satgas) pangan telah dibentuk. Satgas pangan yang dibentuk oleh berbagai kementerian hingga lembaga kepolisian ini ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan harga yang biasa terjadi jelang puasa hingga lebaran.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansyuri, mengaku mendukung langkah pemerintah yang berupaya untuk menindak berbagai pihak, seperti kartel mau pun pedagang nakal, yang mencoba memainkan harga komoditas jelang puasa hingga lebaran.

Sebab Abdullah mengakui, berbagai pihak kerap mencoba mengambil keuntungan berlebih untuk kepentingan pribadi, terutama di momen-momen menjelang puasa.

“Kami men-support. Karena bagaimana pun spekulan, pemain, ada beberapa pihak yang sengaja memainkan harga (pangan), mengambil keuntungan pribadi. Dalam kondisi seperti ini harus mendapat tindakan tegas dari pemerintah. Itu kita apresiasi,” kata Abdullah, Jakarta, Sabtu (6/5/2017).

Namun selain dalam bentuk penindakan terhadap para pemain nakal, Abdullah juga berharap, agar pemerintah juga melakukan upaya lain agar harga pangan di pasaran tidak mengalami kenaikan harga. Contohnya dengan menyiapkan produksi yang cukup untuk kebutuhan jelang puasa hingga Lebaran.

“Jelang puasa itu banyak hal yang sering terjadi. Khususnya gejolak harga. Setiap kali puasa kita selalu disudutkan dengan gejolak atau produksi yang tidak aman,” kata Abdullah.

“Untuk menghindari itu, pemerintah mulai dari sekarang memastikan produksi kita aman. Kalau produksi kita aman, maka kita bisa menghindari spekulan. Kalau produksi aman, artinya di bawahnya itu melimpah berangnya, tidak kekurangan, maka spekulan itu otomatis akan tersingkir dengan sendirinya,” sambungnya.

Dirinya menjelaskan, dalam menyiapkan produksi yang cukup pemerintah harus melihatnya berdasarkan data yang terjadi. Contohnya, data kebutuhan produksi yang ada, kemudian dibandingkan dengan data kebutuhan masyarakat dari tahun-tahun sebelumnya.

“Contoh bawang merah kita untuk kuartal ini kesiapan puasa berapa? Dan data tahun lalu permintaan konsumen untuk puasa berapa? sekarang asumsinya berapa? Ini harus terukur, kalau terukur maka pemerintah bisa menyatakan ini aman,” terangnya.

“Tapi kalau hanya secara lisan, itu susah. Harus by data kalau bicara. Karena faktanya tiga tahun terkahir ini banyak gejolak harga puasa karena tidak by data, walaupun pemerintah selalu mengklaim produksi aman,” sambung Abdullah.

Terlepas dari itu, Abdullah mengatakan, bahwa para pedagang juga mengapresiasi langkah pemerintah yang telah membuat Satgas. Sebab selama ini, dengan naiknya harga pangan jelang puasa hingga lebaran, para pedagang juga terkena imbas negatifnya.

“Kami apresiasi pihak kepolisian, teman-teman kementerian, yang telah berupaya membuat Satgas. Kami sepakat siapa pun yang melakukan spekulasi harga, yang ambil keuntungan sepihak, dan memberatkan pedagang pasar harus ditindak. Kalau harganya tinggi kan pedagang pasar juga susah, karena pedagang juga yang kena, selalu jadi kambing hitam. Jadi spekulan memang harus dipangkas, harus ditindak tegas,” tandasnya. RB